Aliansi Lampung Memanggil Wiped Out

Setidaknya terdapat tiga kelompok pengunjuk rasa tergabung dalam aliansi Lampung memanggil terhenti aksinya akibat tindakan represif aparat keamanan, Kamis 8 Oktober 2020.

Mereka yang melanjutkan aksinya menolak UU Cipta Kerja pasca kerusuhan di gedung dewan provinsi Rabu kemarin, terdiri dari kaum buruh, pelajar, dan mahasiswa.

Bermula dari kaum buruh wanita di Tugu Adipura Bandarlampung, pukul 10.00 WIB, yang beberapa saat kemudian dibubarkan terkait pendemi Covid-19.

Lalu, aksi pelajar di sekitar kantor DPRD Lampung.

Meski belum sempat menyuarakan tuntutannya tetapi aparat keburu mengamankan mereka.

Dan terakhir iring-iringan pendemo mahasiswa yang di-intercept saat menuju gedung dewan.

Setidaknya terdapat 27 pendemo Aliansi Lampung Memanggil terdiri dari warga, pelajar, dan mahasiswa, yang diamankan petugas ke markasnya untuk menjalani proses lebih lanjut.

Sebelumnya aksi mereka diwarnai pelemparan, pembakaran ban, hingga perusakan fasilitas publik di jalan raya.

Selain itu, petugas juga sempat mengamankan beberapa di antaranya pasca kerusahan kemarin.

Sementara dari penelusuran, baru terdapat data bahwa ada 11 pendemo dari Aliansi Lampung Memanggil yang menjalani perawatan akibat terkena lemparan batu, gas air mata, hingga sebab lain.

Di antaranya pada RS A Dadi Tjokrodipo.
Mereka adalah Rafly Tri Andana dari Universitas Teknorat; Ryan Firza, Uswatun dan Bambi UIN Radin Intan; Dila dan Yokta dari Uviversitas Bandar Lampung.

Lalu disebut juga ada yang menjalani pengobatan di RS Bumi Waras.
Yaiitu Agam dari Universitas Malahayati; Vika, Mega, dan Fany dari Polinela Universitas Lampung.

Bahkan ada yang dirawat di RS Bhayangkara. Yaitu seorang mahasiswa dari Universitas Muhammadiyah Metro.

Pada sisi lain, Kabid Humas Polda Lampung Kombes Pol Zahwani Pandra Arsyad membantah bahwa terdapat pendemo yang meninggal.

Hal ini diungkapkannya, Kamis tadi, merespon isu yang beredar soal korban jiwa saat demo penolakan UU Cipta Kerja ini.