Tobong Bata Bakal Jadi Kenangan

Sebanyak lima industri batu bata atau tobong di Tanjungsenang, Bandarlampung, bakal gulung tikar. Minimnya perhatian pemerintah dan ketatnya persaingan industri sejenis membuat para pengrajinnya pasrah pada realita kehidupan.

Daud (56 tahun) salah satu pengrajin, mengungkapnya minimnya perhatian pemerintah soal kelangsungan industri yang sudah digelutinya sejak kecil ini.

Di antaranya tak adanya suplai air saat kemarau. Akibatnya, kemampuan produksi hanya berkisar 1.000 hingga 1.500 keping dalam sehari. Dengan harga jual sekitar Rp250-an.

Andai ada suplai air saat kemarau Daud bersama istrinya mengaku mampu membuat 5.000 bata per hari dengan pemasukan mencapai Rp500 ribu.

Untuk itu dia berharap campur tangan pemerintah atau instansi terkait dalam hal pengadaan sumur bor.
Kendala serupa juga dialami saat musim penghujan seperti sekarang ini. Andai saja mereka memiliki oven, tentu kemampuan produksinya bisa lebih besar lagi.

Belum lagi tuntas permasalahan tersebut industri ini kembali dihadapkan pada kemajuan zaman.
Bahwa konsumen lebih menyukai pemakaian batako berbahan pasir dan semen karena dianggap lebih ekonomis dan kuat ketimbang bata.

Beragam realita ini inilah yang membuat Daud dan rekan seprofesi lainnya bertekad tak lagi menurunkan keahliannya pada anak cucu mereka.

Artinya, dalam kurun waktu 20 tahun mendatang dinding rumah warga tak lagi menggunakan bata. Dan tobong tinggal kenangan.