Pringsewu Seribu Bambu Hoax

Nama tak selalu identik dengan kenyataan. Pringsewu, misalnya, para pengrajin bambu di kabupaten ini justru kesulitan mencari bahan baku. Bahkan mereka harus mendatangkannya dari luar daerah meskipun wilayah ini dikenal dengan sebutan seribu bambu.

Padahal, pemerintah kabupaten Pringsewu telah mencanangkan program bambunisasi sejak lima tahun lalu, tapi gagal. Akibatnya, para pengrajin dan pelaku ekonomi kreatif terpaksa membeli bambu dari lampung tengah dan pesawaran.

Bahkan ada juga yang mendatangkannya dari Lampung Timur.
Terkait bambuniasi atau hutan bambu di Pringsewu ini harusnya menjadi pekerjaan rumah bagi pemerintah setempat.

Karena persoalan ini tidak bisa dianggap remeh mengingat ikon mereka sebagai kabupaten yang berjuluk hutan seribu bambu tadi.

Setidaknya ada 3 satuan kerja perangkat daerah yang selalu berebut dan mengangarkannya hampir setiap tahun.
Akan Tetapi, diduga biaya untuk penanaman bambu tersebut sekedar penyerapan anggaran pembangunan daerah semata.

Bisa jadi, supaya memunculkan kesan serius di mata pimpinan dan masyarakat.
satuan kerja yang sepertinya gagal merealisasikan program itu adalah dinas lingkungan hidup, dinas pertanian, dan badan ketahanan pangan.

Fakta di lapangan, mereka hanya bisa mengupayakan bibit dan menanamnya tanpa melakukan perawatan lebih lanjut. Pendiri komunitas bambu kreasi Pringsewu Syaifulloh mengatakan ketika membicarakan bambuniasi musti juga membahas hulu ke hilir.

Pengadaannya harus teratasi dan untuk pemasaran produknya juga terjawab, bisa pula dibuatkan koorporasi ataupun badan usaha untuk mengakomodir produk dari pengrajin.

Itulah Sebabnya potensi kebutuhan bambu di Pringsewu cukup besar dan bisa menjadi sumber ekonomi masyarakat serta pendapatan asli daerah.

Sentra kerajinan bambu di Pringsewu terdapat di pekon Tulungagung, Jogjaselatan, Kediri, Dan Mataram, Pada Kecamatan Gadingrejorejo.

Dari setiap pekon tersebut hampir sebagian masyarakatnya menjadi pengrajin tampah, kurungan ayam, kursi, karikatur, dan perlengkapan rumah tangga. (*)