Petani & Nelayan Tulungseribu Labrak Pemkab Tulangbawang

Petani & Nelayan Tulungseribu Labrak Pemkab Tulangbawang

Anggapan sulitnya mencari keadilan di negeri sendiri, membuat ratusan petani dan nelayan warga umbul Tulungseribu, kampung Ujung Gunung Udik, Menggala, kembali mengelar aksi dengan mendatangi Pemkab Tulangbawang pada Selasa 25 september.

Iring-iringan massa tiba di Pemkab Tulangbawang sekitar pukul 11.30 wib dengan membawa berbagai perlengkapan petani dan nelayan seperti perahu, bubu, dan beras serta kayu bakar.

Setelah sebelumnya aksi mereka tidak digubris petani dan nelayan lagi-lagi melakukan demo massa mendesak bupati Tulangbawang Hj Winarti hadir di tengah mereka dan mengambil langkah tegas terkait aspirasi warga terhadap pengelola jalan tol trans sumatera oleh PT Waskita Karya.

Bahkan kali ini massa mengancam akan mengelar yasinan dan do’a bersama di kantor bupati, agar allah swa bisa membuka hati bupati Hj. Winarti sehingga dapat bertemu dengan pendemo.

Perwakilan masyarakat Supri Ucup mengatakan bupati tulang bawang Winarti terkesan tidak mengindahkan penyampaian aspirasi tuntutan agar pengelola JTTS PT Waskita Karya membuatkan jembatan penyebrangan dan jalan khusus bagi para petani dan nelayan umbul tulung seribu kampung ujung gunung udik menggala.

Menurut Supri, Waskita telah sanggup membuatkan jembatan maupun jalan khusus sesuai tuntutan warga, namun Pemkab tulangbawang harus mengeluarkan surat permohonan yang ditujukan kepada badan pengelola jalan tol nasional (BPJT).
Supri membenarkan jika bupati tulangbawang Hj Winarti melalui sekretaris daerah pernah melayangkan surat kepada BPJT. Namun surat tersebut tidak ada ketegasan hanya sekedar saran agar mempertimbangkan tuntutan warga.

Sempat terjadi kericuhan antara massa dengan pemerintah kabupaten tulangbawang yang diwakili oleh sejumlah pejabat asisten bidang pemerintahan achmad suharyo dan kaban kesbangpol hamami ria lantaran massa menolak untuk masuk ruangan rapat karena menurut massa percuma jika saja rapat tampa kehadiran bupati.

Menurut Hamami Ria, Pemkab telah melayangkan surat kepada pihak perusahaan sesuai dengan apa yang menjadi tuntutan warga.

Kesal dengan perlakuan massa, Ahkmad Suharyo naik pitam dengan lantang mengatakan jika aksi demo yang dilakukan tersebut melanggar aturan. Sebab mengikat benner pada tiang gedung telah menganggu akses masuk.

Menurut Suharyo Pemkab telah berupaya maksimal untuk membantu warga dengan telah melayangkan surat kepada BPJTN sesuai apa yang menjadi kehendak warga pada saat demo beberapa pekan kemari.
Suharyo juga meminta kepada aparat kepolisian untuk segera menindak dan membubarkan massa jika melanggar tata tertib berdemo.

Diketahui terhitung sudah hampir lima kali masyarakat umbul tulung seribu kampung ugu menggala melakukan aksi demo untuk mencari keadilan, massa hanya menuntut dibuatkan jalan khusus dan jembatan sebagai akses warga membawa hasil panen namun sepertinya tuntutan warga sangat sulit didapat padahal semua itu guna keberlangsungan kehidupan warga yang mayoritas adalah petani dan nelayan.

Masing-masing pihak mengaku benar, PT Waskita menyatakan siap mengakomodir tuntutan warga asal ada campur tangan resmi pemkab tulangbawang.

Sementara Pemkab Tulangbawang telah memenuhi apa yang menjadi keinginan pendemo. Pemkab mengaku yelah menindak lanjuti surat perwakilan masyarakat yang terkena dampak pembangunan jalan tol nomor 03 /V/IX/2018//pada tanggal 13 september 2018. Dengan telah melayangkan surat bernomor :100/22/I.I/TB/IX/2018 yang ditujukan kepada BUJT meminta agar pihak pimpinan BUJT berkenan untuk mengkaji dan mempertimbangkan sesuai dengan ketentuan yang berlaku. (*)