Pengusaha Peternakan Biang Kelangkaan LPG 3 Kg?

Pengusaha Peternakan Sebabkan Kelangkaan LPG 3 Kg

BANDAR LAMPUNG – Polda Lampung bongkar penyalahaan distribusi gas elpiji subsidi di lampung timur tepatnya di desa siraman, kecamatan pekalongan, gas berukuran 3 kg ini digunakan oleh CV Swadaya Agri Jaya yang tergolong dalam usaha menengah ke atas untuk usaha peternakan ayam, hingga kini, belum ada tersangka dalam kasus tersebut.

Menjawab kelangkaan gas elpiji ukuran 3 kilogram di lampung, kepolisian daerah lampung melalui direktorat reserse kriminal khusus membongkar salah satu perusahaan yang menyalah gunakan aturan penggunaan gas elpiji subsidi.

Padahal, dalam peraturan presiden ri nomor 104 tahun 2007 tentang penyediaan, pendistribusian, dan penetapan harga liquefied petrolium gas (LPG) 3 kilogram yang tertuang dalam pasal 20 ayat 2 peraturan menteri esdm no 26 tahun 2009 disebutkan peruntukan gas elpiji 3 kilogram hanya untuk rumah tangga dan usaha mikro dengan penghasilan dibawah 50 juta rupiah.

Namun, dalam penyelidikan oleh kepolisian, terungkap bahwa CV SAJ yang tergolong usaha menengah ke atas sesuai dengan surat izin usaha perdagangan melanggar aturan tersebut, selain menyalahgunakan gas elpiji subsidi pemerintah, CV ini juga diduga telah melanggar aturan lainnya, yakni menggunakan air tanah sebagai pendukung operasional usaha namun tidak memiliki izin pengusahaan air tanah.

Direktur reserse kriminal khusus Polda Lampung, Kombes Aswin Sipayung dalam pers rilis di mapolda lampung menerangkan, dalam kasus ini belum ada tersangka, tetapi pihaknya telah meminta keterangan dari tujuh saksi termasuk pemilik usaha yakni Venetius Eko Supriyanto.

Sementara dalam penyelidikan di gudang CV SAJ, Kasubdit I Indagsi Ditreskrimsus polda lampung, AKBP Budiman menjelaskan, modus yang digunakan oleh pemilik usaha adalah dengan cara menutupi penggunaan gas tiga 3 kilogram dengan gas 5 kilogram dan 12 kilogram untuk menipu saat ada inspeksi dari petugas.

Terungkap juga bahwa CV SAJ telah menggunakan cara ini sejak tahun 2017, hal tersebut ditemukan dalam pembukuan harian yang kini dijadikan barang bukti oleh petugas.

Atas terungkapnya kasus ini, Direktorat reserse kriminal khusus polda lampung berjanji akan terus menindak tegas para pelaku usaha menengah keatas yang menggunakan gas elpiji subsisdi yang diperuntukan untuk warga miskin. (*)