Mepud Lesung Momen Kearifan Lokal

Festival Megow Pak ke XIII “Mepud Lesung” dalam rangkaian HUT Tulangbawang yang ke-XXII menjadi sebuah momen penting bagi warga pribumi demi mengingat kembali sejarahnya.

Kegiatan diikuti oleh 2.600 peserta dibuka langsung oleh Bupati Tulangbawang Winarti Staf Ahli Gubernur Lampung Hanibal, anggota DPR RI Aziz Syamsudin, dan anggota DPRD Lampung Bambang Suryadi.
Dalam bahasa Latin Mepud disebut cobek, lesung tempat mengilas bumbu manual.

Mepud Lesung merupakan sebuah tradisi lama yang dilakukan oleh warga pribumi menggala.
Ritual ini mengambarkan kerukunan dalam berkeluarga, dengan selalu utamakan kebersamaan dan menikmati kehidupan dalam suka maupun duka.

Mepud atau Cobek Lesung adalah makan di atas Lesung Batu, sangat digemari oleh para kaum ibu, mepud dilakukan para ibu rumah tangga usai membuat sambal, saat menyantap biasanya para ibu memanggil suami dan anak-anak untuk mepud atau makan bersama dalam lesung.

Tokoh adat Megow Pak Tulangbawang mengisahkan dahulunya pada masa-masa sulit mepud lesung dilakukan oleh keluarga yang membuka hutan untuk dijadikan peladangan.

Sang istri kebingungan ketika hendak memasak, karena di dapur hanya tinggal beras dan beberapa batang cabe, sementara sambal adalah satu-satunya lauk makan mereka.

Entah bagaimana ketika suami pulang sang istri dan anak-anak langsung mengajaknya menuju dapur untuk makan bersama, walaupun merasa heran makan nasi diatas lesung, tetapi satu keluarga tetap lahap bersantap bersama.
Hingga masuk era modern di Kabupaten Tulangbawang khusunya menggala Mepud Lesung tetap dilestarikan, digemari dan menjadi santapan favorit.

Apalagi Mepud Lesung dipercaya bisa menjaga kerukunan dalam keluarga.
Apapun keberagaman tradisi seni maupun budaya terpenting kita wajib untuk menjaga dan melestarikanya sehingga semua faham makna dari sebuah budaya. (*)