Mahe Harap Mahasiswa Jadi Agen Perubahan

Mahe Harap Mahasiswa Jadi Agen Perubahan

Unit kegiatan mahasiswa budaya dan seni Universitas Bandar Lampung memperingati peristiwa tragedi berdarah 19 tahun yang lalu, tepatnya pada 28 september 1999.

Acara diskusi tragedi UBL berdarah digelar di Cafetaria UBL pada Jumat malam dengan menghadirkan narasumber Mahendra Utama, Yozi Rizal, Abi Hasan Muan, dan Ujang Tommy.

Unit kegiatan mahasiswa budaya dan seni selaku panitia pelaksana mengatakan, diskusi tragedi UBL berdarah adalah upaya untuk menolak lupa dan bentuk apresiasi terhadap perjuangan mahasiswa yang rutin digelar setiap tahunnya.

Sepanjang bulan september 1999, mahasiswa di seluruh wilayah Indonesia melakukan aksi demonstrasi menolak rencana penerapan rancangan undang-undang penanggulangan keadaan bahaya dan rakyat terlatih.

Kedua rancangan undang-undang tersebut dianggap bertentangan dengan semangat demokrasi dan reformasi, serta memberi peluang kembali menguatnya dwi fungsi ABRI.

Aksi penolakan tersebut mengakibatkan jatuhnya korban jiwa di pihak mahasiswa, M Yusuf Rizal dan Saidatul Fitria.

Mahendra utama, kerap disapa Mahe, berharap mahasiswa saat ini menjadi agen perubahan dengan memperbanyak literasi, sehingga dapat merespon dengan baik setiap pergeseran kondisi sosial budaya di masyarakat.
Diskusi peringatan tragedi berdarah UBL dihadiri ratusan mahasiswa dan dipandu oleh Rismayanti Borthon. (*)