Ketua RT Jadi Viral Gegara Protes Tempat Ibadah

Ketua RT Jadi Viral Gegara Protes Tempat Ibadah

BANDAR LAMPUNG – Penutupan Gereja Baptis Indonesia Isa Almasih yang telah berdiri sejak tahun 1967 oleh ketua RT 09, Lingkungan 1, Kelurahan Korpri raya, Kecamatan Sukarame menjadi viral di media sosial.

Akun media sosial atas nama Supiyandi mengunggah foto Gereja GBI Isa Almasih yang ditutup oleh ketua RT 09, Korpri Raya, Arifa’i. Foto yang diunggah di facebook pada awal bulan agustus tersebut menjadi viral dan telah mendapatkan tanggapan beragam dari ribuan netizen.

Tempat peribadatan yang pada awal berdirinya bernama Gereja Kristen Lampung, sebelumnya hanyalah sebuah rumah hunian keluarga yang diubah menjadi tempat ibadah.

Salah seorang pengurus Gereja, Agus, mengatakan penutupan Gereja GBI bermula ketika pada bulan juli lalu, pendeta elisa meminta izin kepada ketua RT untuk merenovasi bangunan Gereja yang sudah usang dimakan usia.
Namun permintaan tersebut ditolak Arifa’i selaku ketua RT 09 karena Gereja GBI Isa Almasih tidak memenuhi syarat dan ketentuan hukum yang berlaku sebagai tempat ibadah, bahkan Arifa’i mengimbau pengurus Gereja untuk sementara waktu menghentikan kegiatan peribadatan.

Menurut Arifa’i, penolakan warga setempat terkait keberadaan Gereja GBI Isa Almasih sudah berulang kali disuarakan oleh warga, mereka menolak karena sebagian besar jemaat gereja adalah warga luar, namun penolakan tersebut tidak diindahkan dan warga pun lebih memilih untuk mengedepankan sikap toleransi.

Pada akhir bulan juli lalu, Arifa’i menyampaikan surat keberatan warga kepada pihak kelurahan dan kecamatan, serta mengundang pihak-pihak terkait untuk musyawarah bersama yang dihadiri tokoh agama, perwakilan pihak gereja, lurah korpri, kepala KUA Sukarame, ketua FKUB Bandar lampung, Babinsa dan Bhabinkamtibmas.

Musyawarah mufakat tersebut mengeluarkan surat pernyataan bersama tertanggal 29 juli 2018 yang menghasilkan tiga poin utama, yakni tetap menjaga kerukunan antar umat beragama, rumah hunian yang digunakan tempat peribadatan diberikan tenggat waktu hingga dua minggu sejak surat pernyataan bersama ditandatangani, dan untuk tempat peribadatan selanjutnya, pihak gereja mencari tempat lain dengan berkoordinasi bersama pihak kelurahan. (*)