Gepeng di Bandarlampung Butuh Perhatian

BANDAR LAMPUNG – Maraknya gelandangan dan pengemis di jalan raya, sepertinya lumrah di perkotaan, tak terkecuali Bandarlampung. Tetapi tindak tanduk mereka malah menimbulkan tanda Tanya.

Apakah layak menggantungkan hidup dari meminta-minta, mengingat kondisi fisik lengkap bahkan terlihat sehat?

Bagi yang hidup di daerah perkotaan, pemandangan anak jalanan, gepeng atau gelandangan dan pengemis adalah hal yang lazim.

Berbagai macam cara mereka lakukan untuk meminta-minta, ada yang menggunakan amplop dengan mengatasnamakan yayasan, dan ada juga yang menggendong bayi.

Mereka mengemis di tempat-tempat umum, mulai dari perempatan jalan hingga memasuki perumahan penduduk.
Adalah Guntoro seorang pria paruh baya warga Lungsir dengan menenteng kresek putih, terlihat memasuki perkampungan Tanjunggading, Kecamatan Kedamaian, Kota Bandarlampung.

Hujan gerimis di siang bolong itu membasahi tubuh kurusnya yang tertutup oleh pakaian lusuh dan bercampur dengan keringat, aroma tak sedap pun menyeruak dari perawakan tubuhnya yang kurus.

Walau gerimis, Guntoro tak menyurutkan langkahnya untuk tetap menapaki perkampungan penduduk yang dulunya masuk wilayah Kecamatan Tanjungkarang Timur.

Penampilan Guntoro yang kumal dan sedikit terlihat linglung mengundang perhatian warga Kampung Tanjunggading. Tak sedikit dari warga yang merasa curiga akan kehadirannya.

Namun tidak demikian halnya dengan Sugeng Suprayogi, pria yang dikaruniai anak tiga ini menunjukkan sikap empatinya dengan menghampiri Guntoro.

Dia memandikan Guntoro dan bahkan memberikan pakaian layak pakai. Alhasil tindakan pria yang berprofesi sebagai wiraswasta ini menarik perhatian warga Tanjunggading.

Usai memandikan Guntoro, Sugeng mencoba untuk mengajak Guntoro berbincang-bincang tentang tujuan perjalanannya.

Guntoro mengaku dirinya berkeliling kampung untuk mencari pekerjaan sebagai penyapu jalan.
Namun saat sugeng menanyakan asal-usul Guntoro, dirinya memberikan jawaban yang berbeda-beda.

Sikap Guntoro yang plin-plan menimbulkan rasa iba Sugeng, sehingga dia pun berinisiatif untuk mengantarkan Guntoro secara langsung ke kediamannya.

Menjadi gelandangan pengemis bukanlah pilihan hidup bagi Guntoro. Namun karena dirinya tidak memiliki keahlian bekerja, mengemis adalah cara termudah untuk menghasilkan uang. (*)