Gempadewa Motori Gerakan Antipenggerusan Bukit Wadas

Gerakan Masyarakat Peduli Bumi Wadas atau Gempadewa menggelar bagi-bagi 450 buah durian sebagai simbol penolakan rencana penggerusan Bukit Wadas, Jumat kemarin.

Aksi penolakan ini dilaksanakan di halaman Masjid Nurul Huda, Desa Wadas, Kecamatan Bener, Kabupaten Purworejo.

Dalam aksi tersebut warga mempersembahkan durian terbaik yang dihasilkan dari hutan di desanya. Mereka menyusunya menjadi tiga gunungan untuk pengunjung.

Tokoh Gerakan Masyarakat Peduli Bumi Wadas Marsono menjelaskan pihaknya juga menggelar bazar mini yang menjual aneka hasil bumi, kerajinan dan makanan produk setempat, hingga pentas seni.

Keuntungannya dikumpulkan untuk membiayai perjuangan hingga terpenuhinya tuntutan mereka.
Menurutnya, aksi tersebut untuk membuktikan bahwa tanah Wadas itu subur.

Di antaranya mampu menghasilkan durian, kemukus, manggis, vanili dan rempah lainnya.
Bahkan di bukit yang akan digerus itu, warga juga menanam kayu keras untuk tabungan mereka.

Hal ini sebagai bukti bahwa kabar yang menyebutkan tanah di Desa Wadas gersang dan tidak produktif bohong.
Upaya penolakan tambang Ini dilakukan sejak wacana penetapan Desa Wadas sebagai kuari atau sistem penambangan terbuka untuk bahan galian industri dan bangunan pada 2016 lalu.

Ketika itu, warga telah menggelar demonstrasi penolakan, menghadap Gubernur Jawa Tengah, hingga ke kantor Balai Besar Wilayah Sungai Serayu Opak Yogyakarta.

Namun, pemerintah belum bisa memberi jawaban jelas terkait penolakan ini. (*)