Gedung RSUD Pringsewu Bobrok Potensi Perparah Sakit Pasien

Kondisi bangunan dan sejumlah fasilitas umum di RSUD Pringsewu memprihatinkan, lemahnya perencanaan sepertinya berandil besar terhadap hal tersebut. Padahal biaya untuk membuatnya mencapai miliaran rupiah.
Sebagian besar fasilitas gedung di RSUD Pringsewu tak bisa difungsikan lagi.

Hal itu terlihat di kelas 3 ruang teratai, lantainya sudah retak-retak dan bergelombang, plafon internit ambrol dan bolong.

Fasiltas di dalam ruangan seperti WC yang tidak berfungsi hingga kenyamanan pasien dan keluarganya yang menunggunya terganggu karena atap bocor di kala musim penghujan.

Lalu terdapat plafon ambrol di selasar depan ruangan cuci darah (hemodialisa), serta tidak terawatnya parkiran mobil ambulance karena tidak dilengkapi kanopi.

Buruknya gedung RSUD Pringsewu ini sepertinya berkaitan dengan lemahnya sistem perencanaan awal serta pelaksanaan kegiatan fisik oleh pihak rekanan yang diduga asal jadi.

Bahkan di gedung utama yang anggaranya cukup fantastis ini, cor betonnya sudah dibongkar kembali.
Diduga pihak rekanan yang mengerjakan pembangunan gedung di RSUD Pringsewu lebih mengedepankan keuntungan ketimbang mutu dan kualitas bangunan.

Meskipun demikian pihak manajemen rumah sakit tak mempedulikannya, mereka lebih memperhatikan soal mengejar standar nasional akreditasi rumah sakit untuk meningkatkan standar pelayanan di RSUD tersebut.
Selamet Suntoro, Kepala Bidang Pelayanan dan PPK BLUD RSUD Pringsewu menyebutkan kondisi bangunan dan status akreditasi adalah dua hal berbeda. (*)