Caleg Takut Dicap Orang Kaya

Menjelang Pileg 2019 calon anggota legislatif diminta untuk jujur melaporkan dana awal kampanye kepada pihak penyelenggara pemilu.

Namun angka yang disodorkan sepertinya tak sesuai dengan fakta di lapangan.
Ada anggapan, sepertinya mereka takut dicap orang kaya sehingga sulit merakyat.

Banyaknya alat sosialisasi calon anggota legislatif atau Caleg yang terpampang di sepanjang jalan utama dan billboard advertising pada titik-titik strategis di Kota Bandarlampung menjadi perhatian masyarakat.

Berbagai alat peraga kampanye milik Caleg seperti stiker banner, ditambah lagi dengan kalender Caleg menjelang pergantian tahun serta kartu nama, tentu membutuhkan biaya yang tak sedikit.

Berdasarkan penelusuran pada sebuah jasa sablon di daerah Sukarame, diketahui satu Caleg mampu menghabiskan biaya hingga puluhan juta rupiah untuk sekali pemesanan alat sosialisasi.

Pemesanan alat peraga dilakukan secara periodik atau dalam jangka waktu tertentu hingga menjelang hari pemungutan suara.

Bahkan salah satu advertising terkemuka di Bandarlampung, modern advertising yang lebih dikenal dengan MD advertising dalam situsnya menyebutkan nominal lima juta hingga lima belas juta rupiah untuk biaya sewa billboard selama tigapuluh hari.

Pengamat politik dari Universitas Lampung Robi Cahyadi Kurniawan menilai sebagian besar Caleg tidak jujur dalam melakukan pelaporan dana awal kampanye.

Hal ini dipicu karena adanya kekhawatiran dalam diri Caleg bahwa masyarakat akan melihat mereka sebagai orang kaya dan jauh dari kesan merakyat. (*)