BPOM Bandarlampung Dituding Semena-mena

BPOM Bandarlampung Dituding Semena-mena

Pengungkap peredaran garam ilegal di gudang milik Ariyanto jalan Wala Abadi, kampung Kroy, Way laga sukabumi, Bandar lampung, menyisakan polemik. Keluarga pelaku menuding BPOM tidak menghargai proses izin SNI yang sedang berlangsung.

Destri pemilik home industri garam merk segitiga permata dan juga istri dari Ariyanto, yang menjadi tersangka pihak kepolisian terkait penyitaan puluhan ton garam, menyatakan keberatan terkait soal proses hukum yang dialaminya.

Mengingat proses pembuatan izin standar nasional dan izin edar dari BPOM tengah berlangsung. Hal itu dibuktikan sejumlah dokumen yang ada, sehingga belum dinilai layak bahwaa usaha yang dijalaninya disebut ilegal.

Kedatangan petugas BPOM kota Bandar lampung di kediamanya beberapa lalu bukan untuk menghentikan penjualan garam. Menurutnya, petugas hanya meminta menunda sementara peredaran garam hingga surat izin keluar serta menstandarkan gudang produksi yang masih di bawah SNI.

Menanggapi hal tersebut, kepala BPOM Bandar lampung Syamsuliani, membenarkan sebelumnya pihaknya telah melakukan sosialisasi kepada pemilik home industri untuk menghentikan sementara peredaran garam, sebelum mendapatkan sni dan ijin edar dari BPOM. Namun yang bersangkutan diam diam mengindahkan himbauan petugas.

Untuk mendapatkan izin edar dari BPOM harus mengikuti prosedur, di antaranya harus memenuhi standar nasional indonesia atau SNI dari pihak balai riset dan standarnisasi. Setelah dapat ijin, baru bisa mendaftakan ijin edar dari BPOM.

Sebelumnya, direktorat kriminal khusus polda lampung telah menyita 50 ton garam dari gudang UD segita permata dan menetapkan Ariyanto sang pemilik usaha menjadi tersangka. (*)