Bapak & Anak Bunuh Alwi Gegara Oli

Perkara pembunuhan yang terjadi di Bumi Ratu Nuban Kabupaten Lampung Tengah, yang sempat meluas menjadi konflik sara sampai pada aksi pembakaran rumah oleh masa, akhirnya disidangkan, dengan agenda pembacaan dakwaan terhadap kedua orang terdakwa.

Yusuf Sukarji, serta sang anak yang bernama Gidion Dwi Kurniawan, harus duduk di kursi pesakitan Pengadilan Negeri Kelas 1 A Tanjung Karang Bandar Lampung, secara bersama – sama, lantaran perkara pembunuhan yang mereka lakukan kepada korban Alwi.

Dalam dakwaan yang dibacakan oleh jaksa, perkelahian yang berujung maut tersebut bermula dari urusan biaya ganti oli motor, yang tidak sanggup dibayarkan oleh korban, sehingga ia pun sementara menjaminkan handphone miliknya, sampai ia memiliki uang untuk menebusnya.

Keesokan harinya bengkel milik terdakwa Yusuf tersebut didatangi seseorang yang mengaku suruhan dari korban Alwi, yang membawa uang sejumlah 30 ribu rupiah, untuk menebus telephone genggam yang dijaminkan, sehingga gadaian HP tersebut diberikan kepadanya oleh terdakwa Gidion.

Setelah selang sehari kemudian, sang istri korban Alwi menyambangi bengkel dan meminta handphone yang dijaminkan tersebut, namun terdakwa Gidion berucap bahwa sudah ada seseorang yang mengaku suruhan korban, telah mengambilnya terlebih dahulu.

Urusan pencarian telephone genggam ini pun hingga pada permintaan terdakwa Gidion yang ingin bertemu dengan korban, agar permasalahan ini dapat diluruskan oleh kedua pihak.

Namun saat pertemuan itu terjadi, korban Alwi menemui terdakwa dengan emosi dan berbekal senjata tajam berjenis pisau laduk, yang korban layangkan ke wajah terdakwa Gidion dan Yusuf Sukarji.

Perebutan senjata pun terjadi, hingga pada pemukulan menggunakan batu ke arah kepala dan leher korban Alwi guna melepaskan genggaman pisau tersebut dari tangannya.

Namun naas bagi Alwi, sebab perkelahian yang tidak seimbang itu berakhir dengan terenggutnya nyawanya di tangan kedua bapak -anak pemilik bengkel tersebut, sehingga kedua terdakwa karena perbuarannya di jerat oleh jaksa dengan pasal 170 ayat 2 ke 3 KUHP, dan pasal 351 ayat 3 KUHP. (*)