Bambu Ajaib Dibandrol Rp 200 Juta

Bambu, yang selama ini hanya menjadi sebuah pagar halaman rumah, atau yang sering kita temui diperjualbelikan dalam bentuk barang kerajinan tangan seperti meja kursi, ternyata menyimpan keunikan lain dari bentuknya, yang mungkin secara kasat mata terlihat tidak beraturan, tetapi harganya mencapai Rp 200 juta.

Bambu, sebuah tanaman yang bertumbuh menjulang tinggi, yang biasa kita temukan tumbuh di hampir setiap lahan kosong dekat permukiman warga, dengan berbagai spesies yang banyak macam, baik spesies lokal hingga yang berasal dari negara luar, yang sering kali diperjual belikan sudah dalam bentuk barang hasil kerajinan tangan, dan telah dimanfaatkan kegunaannya sebagai dinding rumah atau pagar sejak jaman nenek moyang.

Tanaman yang termasuk di dalam jenis rumput – rumputan ini, dalam sehari dapat tumbuh mencapai tinggi 24 centi meter atau bahkan lebih, sehingga sering dianggap suatu tanaman yang mengganggu, dan kerap kali dianggap menjadi sarang makhluk halus oleh masyarakat lokal. Sehingga warga tidak enggan untuk memusnahkannya dengan cara dibakar, atau ditebang.

Namun ditangan Edi Sutomo dan Anim Andika, yang juga turut mempelopori terbentuknya komunitas pecinta bambu, pancar lima. Tanaman dengan nama ilmiah Bambuseae ini, menjadi sebuah benda yang sangat berharga, dengan berbagai macam bentuk unik dan filosofinya, dan tentunya terbentuk indah secara alami.

Jenis – jenis bentuk bambu yang diproses oleh alam ini, jika dilihat secara teliti, dapat menyerupai burung, mahkota ular kepala naga, atau bahkan yang tumbuh dengan bentuk yang tidak normal dan melingkar. Namun dengan nilai jual benda seni yang harganya tak main-main, yang mencapai ratusan juta rupiah.

Para peminatnya sendiri pun tak hanya dari Daerah Lampung, banyak pula yang berasal dari Pulau Jawa, dan bahkan yang berasal dari luar negeri seperti Negara Malaysia, yang sengaja memaharkan benda yang satu ini untuk dikoleksi, atau pun yang mengaitkannya dengan hal magis, seperti untuk pemikat hingga dipercaya kegunaannya untuk mempermudah bisnisnya.

Wit Pring, sebutan yang biasa dikatakan oleh orang-orang suku jawa untuk tanaman ini, memang sempurna dengan bentuk ketidak normalannya, terbentuk dengan sangat indahnya oleh alam, dan juga menyejukkan saat terlihat tumbuh bergerombolan, yang merayu kita untuk merebahkan tubuh dan berteduh dibawahnya.

Tanaman ini sangat laris manis dipasaran pada saat menjelangnya perayaan hari ulang tahun negeri ini, dan biasa dugunakan sebagai tiang bendera, atau umbul – umbul, dan dipasang di depan rumah para warga.

Sedangkan oleh Ketua Komunitas Pancar Lima, yang dengan alasan berangkat dari hobynya mengoleksi bambu, hingga ia menjual tanaman tersebut secara online, Anim Andika, melihat rekan sehobynya yang saat itu mengoleksi bentuk bambu yang unik, berhasil mendapatkan uang dari sepotong bambu miliknya tersebut dengan jumlah yang fantastis.

Dari pengalaman 2 kerabat ini, memang banyak oarang yang mencibir terkait hoby mereka tersebut, ia kerap kali diremehkan tetangga, atau bahkan warga yang melihat saat mereka mencari bambu, hingga menyusuri sungai atau got.

Potongan batang – batang bambu ini, memiliki nama masing masing yang sesuai jenis bentuk – bentuknya, ada yang disebut sambung rogo, yang disetiap ruasnya terdapat cabang – cabang, hingga yang dinamakan bambu petuk, yang terlihat unik karena terdapat cabang yang tumbuh di sela – sela ruasnya.

Meski tanaman ini tengah dilirik dan digandrungi sebagai benda seni dengan harga fantastis, namun komunitas pancar lima ini berharap, nilai jual tenaman ini tidak akan menjadi penyebab perburuan yang besar – besaran dan bahkan merusaknya. Sehingga kelak akan memusnahkan keberadaannya, dan tak dapat dinikmati oleh anak cucu kita dimasa mendatang. (*)