Aeng Bakal Mentas di Purworejo

Yantoro atau Yan Jangkrik berencana mementaskan Aeng di STAINU, Purworejo, Jawa Tengah, pada pukul 19.30 WIB, 30 Maret mendatang.

Karya Putu Wijaya ini sudah dua kali diperankannya serta mendapat respon positif dari penontonnya. Yaitu ketika saat pertama dibawakannya di Sociteit Taman Budaya Yogyakarta lalu yang kedua di Taman Budaya Yogyakarta, pada 2018 lalu.

Yang Jangkrik terbilang mumpuni di dunia seni peran dan teater. Pria kelahiran Yogyakarta pada Rabu Kliwon 19 Juni 1957 ini menggelutinya sejak 1976 di bawah bimbingan Landung Simatupang, Hasmi, dan Wied NS, dengan bendera Teater Stemka Yogyakarta.

Banyak naskah drama karya para maestro seni telah diperankannya ketika itu. Dua tahun berselang, Yantoro tiba-tiba vakum dan mencari lahan profesi lain dengan menyambangi beberapa kota di Indonesia.

Namun hanya sebentar saja, karena dua tahun kemudian dia kembali lagi ke tanah kelahirannya untuk berwira usaha. Ternyata upayanya ini tak bertahan lama dan terhenti pada 1984.

Pasalnya, di tahun ini jiwa seninya kembali muncul dan bergabung dengan Teater Arena Pimpinan Fred Wibowo. Beragam pentas dan peran tak terhitung lagi banyaknya yang telah dilakoni saat di teater ini hingga tiga tahun lamanya.

Entah apa pula yang menyebabkannya dia undur diri di era ini. Banyak yang melihatnya kular kilir membawa alat-alat pancing. Padahal, ketika itu mancing mania belum menjadi tren di tanah air.

Atau bisa saja mancing mania menjadi booming lantaran ulahnya ini. Fase kegilaannya akan kail dan ikan ini terbilang cukup lama yaitu 23 tahun.

Berikutnya pada 2010 dia kembali muncul di panggung teater bersama Landung Simatupang memainkan Naskah “Rami dan Cangkir Pecah” karya terjemahan.

Lalu terlibat juga dalam pementasan Dramatic reading. Pada 2011 bergabung dengan Folk Mataraman Institut yang dikomandani Seni Perupa Samuel Indratma dan Pemusik Balada Ncik Sri Krishna.

Sempat pula dia mementaskan beberapa karya ciptaan Samuel Indratma dalam kemasan Wayang Papet.
Hingga pada 2016 diajak Pemusik dan Teaterawan Sawung Jabo mentas dalam Naskah “Mencari Bapa” karya WS Rendra.

Setahun berikutnya Yang Jangkrik terlihat mementaskan pula Monolog karya Whani Darmawan yg berjudul “Samurai Sakate”.

Hingga pada 2018 kembali tampil monolog membawakan karya Whani Darmawan yang berjudul “The Amazing Suparman”. (*)