3 Terdakwa Pungli Prona Saling Bersaksi

Pengadilan Negeri Kelas 1 A Tanjung Karang menggelar sidang perkara pungli prona yang menyeret 3 orang pelaku, di Kampung Kurung Lama, Kecamatan Kasui, Kabupaten Way Kanan, dengan agenda mendengarkan keterangan para terdakwa yang saling menjadi saksi atau split.

Kadam, Asmanudin, dan Solehono, para terdakwa pelaku pungli prona pada tahun anggaran 2017, kembali disidangkan di ruang Ali Said, Gedung Pengadilan Negeri Kelas 1 A Tanjung Karang Bandar Lampung.

Dalam sidang yang beragendakan keterangan para terdakwa yang saling menjadi saksi kali ini, ketiganya kompak memberikan keterangan yang sesuai dengan isi dakwan jaksa.

Mereka pun berdalih, bahwa uang yang mereka minta dari para warga, yang sebanyak 700 ribu rupiah, hanya mereka terima sejenak di tangannya, dan selanjutnya langsung mereka serahkan setoran tersebut kepada tersangka Rian Arista, yang saat ini menjadi DPO pihak kepolisian.

Dari keterangan terdakwa Kadam, ia mengaku sebagian uang yang terkumpul dan akan disetorkan kepada sekertaris kampung tersebut, telah terpakai oleh dirinya sebesar 4 juta 500 ribu rupiah, yang dimaksudkan olehnya akan dikembalikan nanti setelah menerima bagiannya dari Rian Arista.

Program pemerintah ini seharusnya tidak ditarik biaya yang sebesar itu, namun dalam pelaksanaannya, para warga Kampung Kurung Lama dibebani tarif oleh ketiganya, yang besarannya hingga mencapai 7 ratus ribu rupiah per orang, yang lalu diadukan oleh warga kampung lantaran sertifikat tidak kunjung diterima.

Oleh karena ulahnya, para panitia prona ini dijerat oleh jaksa dengan pidana sesuai dengan pasal tentang pemberantasan tindak pidana korupsi, sehingga RT, Kadus, dan bendahara panitia prona ini, diancam dengan hukuman pidana penjara paling lama selama 5 tahun kurungan penjara, dan diwajibkan untuk membayar denda sebesar 50 juta rupiah. (*)