174 Warga Sebesi-Sebuku Dievakuasi

Sejak Senin pagi, proses evakuasi terus dilakukan dari Pulau Sebesi dan Pulau Sebuku. Sudah 174 warga dari kedua pulau ini dibawa ke shelter-shelter pengungsian ke Kota Kalianda, Lampung Selatan.

Erupsi Gunung Anak Krakatau yang menyebabkan terjadinya tsunami di Lampung menyebabkan para warga belum memungkinkan kembali ke rumahnya masing masing.

Ekspresi traumatik akibat terjangan tsunami tersebut masih melekat di wajah para korban saat berada di pengungsian.

Terlebih Tsunami yang melanda beberapa wilayah seperti Desa Way Muli, Kunjir, Maja, hingga pulau-pulau yang dekat dengan sumber letusan seperti Pulau Sebesi dan Sebuku membuat mereka harus dilakukan evakuasi bertahap.
Proses evakuasi pun sangat sulit dilakukan mengingat jarak tempuh menuju Pulau Sebuku dan Sebesi serta kondisi air pasang yang mengakibatkan Tim Penyelamat sulit mengakses kedua tempat ini.

Tercatat 2.000-an warga di Pulau Sebesi dan lebih dari 200 dari pulau sebelahnya yaitu Sebuku yang luka dan trauma diangkut secara bertahap.

Tahap I sebanyak 59 orang dari Pulau Sebesi, tahap II terdapat 47 orang Pulau Sebuku, dan tahap III ada 68 orang juga dari Pulau Sebesi.

Setelah menjalani pemeriksaan medis, mereka ditempatkan di shelter pengungsian Tenis Indoor Kalianda. Tetapi, ada juga beberapa di antaranya sudah dijemput oleh sanak familinya.

Sementara sisanya masih bertahan di pulau dengan akomodasi dan makanan seadanya. Bahkan sebagian besar dari mereka masih bertahan di wilayah pegunungan pada kedua pulau ini.

Dr Reagen menambahkan bahwa kondisi warga di kedua pulau itu amat memprihatinkan. Mereka mengalami trauma dan kelaparan. Arus listrik padam dan tak tersedianya obat-obatan. Bila hal ini tak segera ditangani akan menimbulkan masalah baru.

Hingga saat ini tim gabungan masih terus menjemput dan mengevakuasi korban dari Pulau Sebesi dan Sebuku. (*)